PENANGANAN OBESITAS KOMPREHENSIF
Senin, 30 Desember 2019 - 10:01:38 WIB
Ditulis oleh : Arinda
Kategori: Umum - Dibaca: 1042 kali
PENANGANAN OBESITAS KOMPREHENSIF
 
oleh : dr. Dhody M. Arywibowo
Pakar Akupuntur Medis
 
     Kata obesitas berasal dari bahasa Latin: obesus, obedere, yang artinya gemuk atau kegemukan. Obesitas atau kegemukan merupakan suatu kelainan atau penyakit yang ditandai dengan penimbunan jaringan lemak tubuh secara berlebihan. Obesitas ini terjadi karena ketidakseimbangan antara asupan dan keluaran energi sehingga terjadi kelebihan energi yang selanjutnya disimpan dalam bentuk jaringan lemak (Nevid, 2005; Elvira, 2005).  
 
 
    Suatu ukuran tingkat kegemukan seseorang, secara epidemiologi dihitung dengan BMI (Body Mass Index) atau IMT (Indeks Masa Tubuh), dimana perhitungannya  dengan   membandingkan     berat badan (dalam kilogram) dibagi tinggi badan (dalam meter) dikuadratkan. Wanita dan pria dengan BMI 18,5 – 22,9 berada pada berat badan yang sehat.  BMI berada pada 23-24,9 berarti kegemukan dan BMI 25 keatas berada dalam kondisi obesitas (perhitungan ini tidak berlaku bagi atlet, ibu hamil dan anak-anak; karena BMI  tidak  mencerminkan  distribusi timbunan lemak  didalam tubuh). Dengan menghitung lingkar perut dan pinggul atau  prosentase lemak tubuh,  lebih dapat menggambarkan timbunan  lemak tubuh yang sebenarnya; kriterianya sebagaimana tertulis pada tabel dibawah ini (Darmoutomo.2007. Witjaksono, 2008)
 
 
    Sedangkan pengertian obesitas dalam bidang psikologi, menurut Wurtam & Wurtam, obesitas adalah simpanan energi yang berlebihan dalam bentuk lemak, yang berdampak buruk pada kesehatan dan perpanjangan usia. Secara klinis, obesitas dapat dikenali dengan adanya tanda dan gejala yang khas, antara lain: wajah membulat, pipi tembem, dagu rangkap, relatif pendek, dada yang menggembung dengan payudara yang membesar mengandung jaringan lemak, perut membuncit dan dinding perut berlipat-lipat serta kedua tungkai umumnya berbentuk X, dan dapat menimbulkan bau yang kurang sedap, sedangkan pada anak laki-laki dapat dilihat dengan penis yang kecil (burried penis) karena terkubur dalam jaringan lemak supra-pubik. (Syarif, 2003; Siregar, 2006).
 
 
    Dari berbagai pengertian tersebut, maka dapat disimpulkan bahwa obesitas adalah suatu kelainan atau penyakit akibat simpanan energi yang berlebihan dalam bentuk lemak dengan BMI sama dengan atau lebih dari 25.
 
 Faktor-Faktor Penyebab Obesitas
 
     Menurut penelitian, obesitas disebabkan oleh berbagai faktor yang dapat dibagi menjadi faktor biologis dan psikologis.
 
a.  Faktor Biologis
 
Faktor biologis penyebab obesitas dapat dibagi atas:
1).  Genetik dan Keturunan
    Obesitas sering didapatkan pada individu yang salah satu atau kedua orangtuanya penderita obesitas. Hanya 7% anak yang mempunyai orangtua dengan berat badan normal menjadi obes pada usia 30 tahun, hal ini mungkin karena anak belajar kebiasaan makan dan aktivitas dari orangtuanya. Sedangkan penelitian Bouchard diperoleh hasil bahwa 25-75% kegemukan disebabkan karena keturunan dari kedua orangtuanya (Dariyo,2003), sedangkan pada penelitian Laboratorium Gizi Dunn Cambridge diperoleh hasil, bila salah satu orangtua obesitas maka 40-50% anaknya akan menderita obesitas, sedangkan bila kedua orangtua obesitas, 80% aanaknya akan obesitas (Misnadiarly, 2007). Hal ini menunjukan bahwa faktor genetik berkontribusi dalam terjadinya obesitas (Pribadi. 2007). Penelitian Stice dkk (2005), mendukung pernyataan ini, dimana penelitian terhadap 496 remaja di Amerika yang di follow-up selama 4 tahun menunjukkan bahwa keturunan dari orang tua yang obesitas akan menurunkan anak yang mengalami obesitas pula.
 
2).  Disfungsi Salah Satu Bagian Otak
    Otak memainkan peranan penting didalam regulasi homeostasis energi melalui tiga aksi fisiologis yaitu mengendalikan rasa lapar dan kenyang (satiety), mempengaruhi laju pengeluaran energi, dan regulasi sekresi hormon yang terlibat didalam pengaturan penyimpanan energi. Hipotalamus merupakan sentral didalam pengendalian metabolisme energi. Sinyal-sinyal ini bersifat anabolik atau katabolik, dimana anabolik membutuhkan intake nutrien dan simpanan energi, sedangkan katabolik membutuhkan pembatasan intake nutrien dan pengeluaran energi. Impuls yang masuk ke otak yang meregulasi homeostasis energi dibagi menjadi dua kategori yaitu (1).sinyal  yang pendek (situasional) hal ini berhubungan dengan porsi dan waktu makan, kemudian (2) sinyal yang panjang, yang dikeluarkan oleh fat-derivated hormon leptin mengatur homeostasis energi. Kedua sinyal ini bekerjasama sehingga dapat menyimpan energi (Soerasmo, 2002).
 
a) Peran Hipotalamus
    Penelitian dangan stimulus pada regio otak menunjukkan bahwa hipotalamus memainkan peranan penting pada homeostasis energi. Stimulus nucleus ventromedial hypothalamic (VMH) akan menghambat intake makanan dan kerusakan nucleus ini akan menyebabkan hiperfagia (makan yang berlebihan) dan obesitas. Sedangkan manipulasi pada nucleus lateral hypothalamic (LHA) memberikan pengaruh yang berlawanan. Penelitian yang dilakukan Hetherington & Ranson (1940) dan Anand & Broebeck (1951) ini memunculkan teori bahwa VMH dan LHA merupakan pusat kenyang (satiety) dan pusat lapar (Soerasmo, 2002. Atkinson, t.th.Silbernagl, 2007), namum menurut penelitian yang lebih baru antara lain oleh Teitelbaum & Epstein (1962),  Hustvwdt & Lovo (1972), Gold et al (1977), Leobowitz, Homer & Chang (1981)  ternyata teori yang menyatakan VMH dan  LHA sebagai pusat lapar dan pusat lapar ini keliru.  VMH adalah mengatur metabolisme energi, bukan mengatur makan, dan LH sebagai pusat secara spesifik didedikasikan untuk makan tidak lagi pantas dianggap serius ( Pinel, 2009).
 
    Peran hipotalamus sebagai regulator keseimbangan energi dengan cara mengidentifikasi mediator-mediator yang terlibat. Terdapat 2 neurotransmitter yang dikenal, Pertama yaitu neurotransmitter klasik seperti norepineprin, dopamine dan asetilkolin. Pada beberapa penelitian, neurotransmitter-neurotransmitter ini berperan didalam regulasi homeostasis energi. Serotonin juga mempunyai peranan, karena neuron-neuron serotonergik didalam otak berperan didalam regulasi intake dan selera makan, disamping itu kadar serotonin juga mempengaruhi selera makan, kadar di dalam otak juga dipengaruhi oleh faktor nutrisi. Perubahan kadar triptofan yang merupakan prekursor serotonin didalam otak menyebabkan perubahan kadar serotonin otak. Gangguan atau perubahan rasio karbohidrat dan protein didalam diet mempengaruhi kadar triptofan serum dan uptake triptofan oleh otak. Kedua, banyak neuropeptida dan hormon perifer yang mempengaruhi intake makanan dan berperan didalam pengendalian kebiasaan makan (feeding behaviour). Neuropeptida-neuropeptida tersebut terdiri dari: neuropeptida Y (NPY), melanin-concentrating hormone, corticotropine-releasing hormone (CRH), urocortin, glucagons-like peptideI, bombesin, galanin dan somatostatin. Letak dari hormon-hormon tersebuat terdapat di nucleus paraventrikuler, dorsal dan rostral pada VMH; dan lesi didaerah ini akan mempengaruhi kebiasaan makan dan homeostasis energi. NPY berperan didalam respons fisiologi terhadap starvation dan obesitas (Soerasmo, 2002, Atkinson, t.th. Silbernagl, 2007).
 
b). Sinyal Satiety Perifer
    Menurut teori glukostatik, tubuh mampu memperkirakan kebutuhan energi melalui neuron-neuron glukosintesis didalam otak yang berespons terhadap tingkat penggunaan glukosa dan mampu meregulasi intake makanan melalui aksi pada VMH dan LHA. Meskipun hipoglikemia akut menyebabkan rasa lapar tetapi glukosa plasma belum terbukti sebagai faktor pemicu. Hormon-hormon usus halus merupakan regulator kunci asimilasi nutrien, maka satu atau lebih dari hormon-hormon tersebut dapat memberikan sinyal satiety ke otak. Glukagon, bombesin, somatostatin dan kolesistokinin (CCK) menurunkan porsi makan. Dari penelitian dengan memberikan CCK berulang akan menurunkan porsi intake, tetapi intake makan akan lebih sering sehingga berat badan tidak berubah; oleh karena ini CCK tidak dapat untuk meregulasi berat badan dalam jangka panjang. (Budiyono, 2003; Soerasmo, 2002).
 
3).   Metabolisme
    Ketika kehilangan berat badan, terutama dalam jumlah yang signifikan, tubuh bereaksi sekan-akan kelaparan. Tubuh merespon penurunan berat badan dengan memperlambat tingkat metabolisme/ tingkat pembakaran kalori tubuh (metabolic rate). Menurut Keesey (dalam Nevid dkk. 2005) mekanisme dalam otak yang mengontrol metabolisme tubuh untuk menjaga berat badan disekitar titik pengaturan (set point) yang telah ditentukan secara genetis. Olahraga yang cukup juga akan mampu mengimbangi metabolisme ini. Latihan fisik yang cukup akan membakar kalori secara langsung dan dapat meningkatkan tingkat metabolisme dengan mengganti jaringan lemak dengan otot, dan otot juga akan membakar lebih banyak kalori dari lemak.
    Menurut Egger (2001), tubuh memiliki basal metabolisme rate (BMR) atau tingkat pembakaran kalori sesuai dengan jenis kelamin dan usia masing-masing. 
 
    Dari tabel terlihat rumus perhitungan BMR masing-masing untuk pria usia diatas 7 tahun dan untuk wanita usia diatas 3 tahun atau anak laki-laki usia 3-7 tahun. Untuk Usia diatas 30 tahun baik pada pria maupun wanita ada faktor koreksi pengurangan kalori sesuai kelompok usia seperti tabel diatas.
 
4).   Sel Lemak
    Sel lemak adalah sel yang menyimpan lemak. Sel lemak berisi jaringan lemak dalam tubuh yang disebut jaringan adipose. Penderita obesitas memiliki lebih banyak sel lemak daripada orang yang bukan obesitas. Penderita obesitas yang berat mungkin memiliki 200 milyar sel lemak, sedangkan orang normal memiliki sel lemak sekitar 25 milyar-30 milyar sel lemak (Nevid, dkk. 2005; Subardja, 2004). Setelah makan, tingkat gula darah menurun, mendorong lemak dari sel-sel tersebut mengedarkan banyak makanan pada tubuh. Hipotalamus pada otak mendeteksi pengosongan lemak pada sel ini. Hipotalamus kemudian memberi tanda pada korteks serebral, memicu dorongan rasa lapar yang memotivasi  makan dan kemudian mengisi kembali sel lemak (Subardja, 2004. Atkinson, t.th. Nevid, 2005)
    Orang yang memiliki lebih banyak jaringan lemak mengirimkan lebih banyak sinyal ke otak dibandingkan dengan orang yang memiliki berat badan yang sama tetapi memiliki sel lemak yang lebih sedikit. Akibatnya, mereka lebih cepat merasa membutuhkan makanan. Diet ternyata tidak membuang sel-sel lemak, tetapi akan menciutkan sel lemak tersebut. Hal ini juga mengakibatkan pelaku diet pada obesitas merasa kelaparan terus-menerus dalam usahanya mempertahankan berat badannya (Nevid, 2005)
    Menurut Brownell & Wadden (dalam Nevid, 2005), Jumlah sel lemak ditentukan oleh faktor keturunan dan masuknya makanan yang berlebihan pada awal masa kanak-kanak.
 
 
b.    Faktor Psikologis
 
    Penyebab obesitas dari faktor psikologis dapat dibagi kedalam faktor-faktor berikut:
 
1).   Faktor Emosi
 
    Schachter yang meneliti terhadap kelompok obesitas dibandingkan normal menemukan kenyataan bahwa kelompok obesitas kurang emosional dibandingkan kelompok normal (Budiyono, 2003).  Sedangkan penelitian Dixon dkk (2003) mendapatkan kenyataan bahwa wanita muda penderita obesitas dengan body-image yang rendah memiliki resiko tinggi menderita depresi. Namun penelitian Chandra dkk (2007) yang meneliti hubungan antara obesitas dengan psikopatologi ternyata menemukan bahwa tidak ada hubungan antara obesitas dengan terjadinya psikopatologi seperti depresi, anxietas, obsesi kompulsi, fobia, somatisasi, sensitivitas interpersonal, hostilitas, ide paranoid dan psikotisme. Sedangkan penelitian Hidayah dkk (2007) menemukan tingkat kematangan sosial anak pada anak obesitas lebih rendah daripada anak tanpa obesitas.
 
    Pada emosi rasa kenyang, terdapat gambaran tingkatan/tahapan rasa kenyang  (the satiety cascade) yang meliputi tahapan-tahapan berikut (Budiyono, 2003):
a) Efek Sensorik
     Efek sensorik ini dirangsang oleh cita-rasa makanan; dan cita-rasa merupakan prediktor kuat dari energi makanan yang dimakannnya, semakin bercita-rasa maka semakin kuat sebagai prediktor makan.
b) Efek Emosi dan Kognitif
    Perasaan dan pengetahuan tentang bahan dan efek makanan itu sendiri dipersepsikan berbeda antara pria dan wanita, terutama reaksi dalam menghadapi stres. Wanita berselera lebih meningkat secara reaktif, sedang pada pria cenderung menurun.
c) Efek Pasca Pencernaan  
    Sinyal refleks gastrointestinal misalnya lambung menjadi penuh; bagaimana kecepatan pengosongan lambung, sangat berkaitan dengan hormon dan reseptor fisiokimiawi spesifik.
d) Efek Pasca Absorbsi
    Tahap ini termasuk sinyal makanan, hormonal, metabolik, dan peran neurotransmiter. Mekanisme umpan-balik mungkin memberikan informasi kepada otak tentang cadangan energi fisik.
 
2).   Faktor Perilaku Makan dan Lingkungan
 
    Perilaku dan lingkungan yang berkaitan dengan obesitas meliputi banyak hal. Penelitian Riza dkk (2007) yang menyebutkan bahwa pengasuhan anak yang bukan oleh ibu kandung akan mempengaruhi gangguan psikososial pada anak obesitas. Mexitalia dkk (2004), meneliti hubungan antara aktivitas fisik dan bentuk pemberian makan pada obesitas anak berusia 6-7 tahun mendapatkan hasil adanya hubungan antara frekwensi pemberian makan dan terjadinya obesitas, konsumsi susu dan makanan kecil tidak ada hubungannga dengan obesitas, frekwensi olah raga ada hubungannya dengan obesitas, lamanya melihat TV dan lamanya olah raga tidak memperlihatkan hubungannya dengan obesitas, namun penelitian di Amerika oleh Gortmaker (dalam Syarif, 2003) menunjukkan bahwa menonton TV lebih dari 5 jam meningkatkan prevalensi obesitas pada anak 6-12 tahun dan menurunkan angka keberhasilan sembuh dari pengobatan obesitas. Pada penelitian Gibson dkk (2007) terhadap 265 anak yang menderita kegemukan atau obesitas di Pert Australia diperoleh hasil bahwa terjadinya kegemukan dan obesitas meningkat pada ibu yang kegemukan dan ibu single-parent. Penelitian Ozmen et al (2007) di Turki menemukan bahwa pria dengan sosialekonomi tinggi diprediksi akan menjadi obesitas di waktu mendatang, sedangkan pada wanita dari sosialekonomi tinggi akan menjadi kegemukan diwaktu mendatang, dan pada wanita akan menyebabkan tidak nyaman dengan tubuhnya sehingga menyebabkan depresi dan self-esteem yang rendah. Penelitian di suku Pima Indian yang hidup di pedesaan Mexiko lebih rendah penderita obesitas dibandingkan dengan pola hidup tradisional dibandingkan dengan suku Pima Indian yang hidup di Arizona dengan pola hidup makan kebarat-baratan. Hal ini jelas menggambarkan bahwa efek samping westernization pola makan dan aktifitas fisik  berpengaruh signifikan dalam terjadinya obesitas. Perubahan aktifitas yang kurang dengan kemajuan teknologi seperti peralatan melalui remote control meningkatkan terjadinya obesitas di Amerika (Budiyono, 2003).
    Menurut Budiyono (2003), ada 2 teori dalam faktor perilaku dan makan, yaitu hipotetis faktor eksternal dan hipotesis menahan makan (restrained eating hypothesis)
 
a). Hipotetis Faktor Eksternal
    Hipotetis faktor eksternal dalam mempengaruhi perilaku makan ada dua hal penting yaitu:
Pertama, pada orang obesitas ternyata kurang sensitif/peka (insensitive) atau kurang bereaksi (unresponsive) pada keadaan lapar internal (internal hunger state). Pada penelitan terbukti bahwa seorang yang diberi pertanyaan: “Apakah anda lapar?”, maka pada orang yang berat badannya normal akan menjawab berdasarkan kondisi makan yang terakhir yang dimakan; akan tetapi pada orang yang obesitas akan menjawab berdasarkan jumlah (kuantitas) makanan terakhir yang dimakannya.
Kedua, kuantitas asupan makan/food intake pada orang obesitas banyak dipengaruhi oleh cita rasa dibandingkan dengan orang normal. Pada percobaan dengan es krim dapat ditunjukkan bahwa seseorang memberikan respon tentang cita rasa yang enak atau tidak enak. Pada orang obesitas akan memakan jumlah sedikit es krim yang cita rasa tidak enak, tetapi makan es krim yang cita rasanya enak dalam jumlah yang banyak; sedangkan pada orang yang normal akan memakan es krim yang cita rasa enak tetapi dalam jumlah yang sedikit.
 
 
b). Hipotesis Menahan Makan
    Dalam hipotesis ini meyebutkan bahwa beberapa orang obesitas bingung memaksakan diri untuk menahan makannya. Oleh sebab itu masyarakat gemuk dapat disebut restrained eaters (penahan makan). Dalam penelitian dengan memberikan minum es krim, mereka dapat memakan es krim yang cukup banyak. Kelompok restrained eaters (kelompok obesitas) relatif hanya sedikit memakan es krim dibandingkan kelompok unrestrained eaters (kelompok normal).
    Sesudah memakan es krim, mereka diberikan milk-shake. Kelompok normal hanya memakan es krim dan merasakan kenyang dan hanya meminum sejumlah kecil milk-shake. Kelompok obesitas ternyata relatif memakan sejumlah kecil es krim, yang ditahannya sebagai konsekuensinya dan meminum sejumlah besar milk-shake. Penelitian Stice (2005) juga menemukan bahwa pembatasan makan dan perilaku makan sangat mempengaruhi terjadinya obesitas, tetapi makan tinggi lemak dan binge eating (suka pesta) hanya mempengaruhi terjadinya obesitas dalam jangka pendek.
 
3). Aktivitas Fisik / Olah Raga
 
    Aktivitas fisik/ olah raga berkaitan erat dengan tingkat pengeluaran energi tubuh. Pengeluaran energi ditentukan oleh tiga faktor, yaitu tingkat aktivitas fisik/ olah raga secara umum, tingkat metabolisme basal atau tingkat energi yang dibutuhkan untuk mempertahankan fungsi minimal tubuh (RMR/ Resting Metabolic Rate/BMR/Basal Metabolisme Rate), makanan dan proses pencernaan. Dari tiga faktor tersebut, metabolisme basal memiliki tanggungjawab 60 –70% dari pengeluaran energi normal; makanan dan proses pencernaan sebesar 10%, serta aktivitas fisik berkisar antara 20–30%. Walaupun aktivitas fisik hanya mempengaruhi 20-30% dari pengeluaran energi seseorang dengan berat badan normal, tetapi pada seseorang yang obesitas, aktivitas fisik memiliki peranan yang penting (Nilawati, 2003. Nilawati, 2005. Triangto, 2008).  
    Ketika berolah raga kalori terbakar, makin sering berolah raga maka semakin banyak kalori yang hilang. Kalori secara tidak langsung mempengaruhi sistem metabolisme basal. Setiap penurunan berat badan mencapai 3% maka metabolisme basal /RMR berkurang 17%; dan setelah usia mencapai 25 tahun, maka setiap penambahan usia 10 tahun, tingkat metabolisme basal tubuh juga akan berkurang 4%. Pada orang yang melakukan aktivitas sangat minimal seperti duduk-duduk sepanjang harian akan mengalami penurunan metabolisme basal tubuhnya. Penelitian Stice (2005) mendapatkan hasil bahwa aktivitas fisik/olah raga yang kurang akan berpengaruh terhadap terjadinya obesitas dalam jangka pendek (3 bulan ).
    Penelitian Azhari (2007) menunjukkan bahwa Aktifitas fisik dan kebugaran fisik berpengaruh terhadap terjadinya obesitas. Dengan demikian, olah raga sangat penting dalam penurunan berat badan, karena selain dapat membakar kalori, juga dapat membantu mengatur metabolisme tubuh berfungsi normal (Egger, 2001;Triangto, 2008).
 
    Dari uraian tersebut diatas, maka dapat disimpulkan bahwa terjadinya obesitas dapat disebabkan oleh karena faktor biologis dan faktor psikologis. Faktor biologis penyebab obesitas yaitu genetik dan keturunan, disfungsi salah satu bagian otak, metabolisme tubuh, dan jumlah sel lemak, sedangkan faktor psikologis yang menyebabkan obesitas adalah faktor emosi, faktor perilaku makan dan lingkungan, serta aktifitas fisik/ olah raga.
 
3.    Penanganan Obesitas
 
        Penurunan berat badan tidak boleh drastis, cukup 5-10% dalam jangka 3-6 bulan (Oetoro, 2007), dengan kecepatan penurunan berat badan 0,5-2 kilogram per bulan atau 0,5 kilogram per minggu untuk anak (Syarif, 2003), sedangkan untuk dewasa 1-4 kilogram per bulan untuk jangka pendek, jangka menengah turun 10% dan Jangka panjang turun 10-20% dari berat badan semula (Egger, 2001). Menurut Darmoutomo (2007), target jangka pendek penurunan berat badan adalah 0,5 kilogram/minggu dan target jangka panjang adalah penurunan 10% berat badan, dan menurut Soegih (2003) rata-rata penurunan berat badan 1 kilogram/minggu. Untuk dapat mencapai penurunan berat badan yang sesuai, maka perlu penanganan obesitas secara komprehensif yang pada prinsipnya adalah mengurangi asupan energi serta meningkatkan keluaran energi.
 
    Adapun cara penanganan obesitas secara komprehensif dilakukan dengan:
a. Pengaturan diet
b. Peningkatan aktifitas fisik/olah raga
c. Farmakoterapi
d. Akupunktur
 
    Adapun cara pengaturan diet, peningkatan aktifitas fisik, farmakoterapi, dan akupunktur untuk menurunkan berat badan dapat diuraikan sebagai berikut:
 
a.  Pengaturan Diet
    Menurut Darmoutomo (2007), mengatur diet pada obesitas harus masuk akal dan dilakukan dalam jangka waktu lama, makan teratur namun rendah kalori, mudah dibuat dan diperoleh.  Kebutuhan kalori orang dewasa berkisar 1500-2000 kkal perhari. Untuk menurunkan berat badan (membuang cadangan lemak tubuh) diperlukan defisit pemasukan kalori sekitar 500 kkal/hari, (dengan defisit pemasukan sebesar ini maka berat badan akan turun 0,5 kilogram/minggu) sehingga anjuran asupan berkisar 1000 kkal perhari pada wanita dan 1500kkal perhari pada pria. Proporsi lemak adalah 25-30 % dari total kalori (sekitar 35 gram/hari), perbanyak serat serta sayur untuk mempercepat kenyang. Menurut Witjaksono (2008), diet untuk menurunkan berat badan terdiri dari 35% lemak (yang terdiri dari 8-10% lemak jenuh, <10% lemak tidak jenuh ganda, <15% lemak tidak jenuh tunggal), rendah karbohidrat (>55%) dan tinggi protein(15%).
 
    Merencanakan menu makanan sehari-hari perlu dilakukan oleh penderita obesitas. Latihan mengontrol makan harus menjadi kebiasaan, namun pengaturan diet hendaknya tidak hanya untuk menurunkan berat badan tetapi juga untuk kesehatan.  Syarat latihan mengontrol makanan menurut Misnadiarly (2007) antara lain:
 
1) Secara psikologis dan emosional, diet memang diperlukan, bukan pemaksaan dari pihak lain.
2) Bijaksana dalam memilih makanan.
3) Paham mengenai zat gizi yang diperlukan tubuh yaitu tinggi kandungan protein dan zat gizi mikro, tetapi rendah lemak dan kalori.
4) Menu yang dipilih praktis, dapat dihidangkan dalam waktu cepat, selalu tersedia dan dapat diterima selera.
 
    Disamping pengaturan diet, penanganan penderita obesitas perlu merubah perilaku makan. Menurut Syarif (2003), perubahan perilaku makan pada penderita obesitas dapat dilakukan antara lain dengan:
1) Pengawasan sendiri terhadap berat badan, asupan makanan, aktifitas fisik serta mencatat perkembangannya.
2) Kontrol terhadap rangsangan/stimulus, misalnya pada saat menonoton televisi mencegah untuk tidak makan karena melihat televisi dapat menjadi pencetus makan.
3) Mengubah kebiasaan makan, misalnya makan lebih lambat, mengontrol porsi dan jenis makanan yang dikonsumsi, mengurangi camilan.
4) Penghargaan dan hukuman untuk mendorong keberhasilan penurunan berat badan.
5) Pengendalian diri, misalnya mengurangi bepergian atau pertemuan sosial yang memberi resiko untuk makan terlalu banyak.
 
b.Peningkatan Aktivitas Fisik/ Olah Raga
    Pada penderita obesitas biasanya kurang gerak, tidak terlatih, kurang motivasi dalam melakukan aktifitas fisik. Untuk penurunan berat-badan, penderita obesitas yang melakukan aktivitas harus memenuhi dosis aktivitas fisik yang terdiri atas frekwensi, intensitas, lama dan jenis exercise berdasarkan kondisi kesehatan dan kebugaran penderita obesitas tersebut (Primana, 2003), dan olah raga yang dapat mengurangi obesitas adalah olah raga yang intensitasnya rendah untuk waktu yang lama, misalnya maraton, jogging dan sebagainya (Misnadiarly, 2007), hal tersebut agar dapat meningkatkan metabolisme tetapi tidak memberikan dampak negatif seperti cedera dan tidak menambah jumlah otot secara berlebihan (Triangto, 2008). Setiap olah raga/aktivitas fisik yang memakai 3500 kalori akan membakar lemak sebanyak 0,5 kilogram. Untuk menurunkan berat badan pada obesitas, WHO merekomendasikan agar setiap individu dari berbagai usia untuk melakukan aktivitas fisik selama 30-60 menit dengan intensitas moderat  4-5 per minggu (Primana, 2003). Bilamana dilakukan lebih dari 5 kali seminggu maka kemungkinan cedera jadi meningkat dan mempermudah terjadinya peningkatan massa otot secara berlebihan (Triangto, 2008).
    Latihan fisik yang ideal adalah sampai mendapat “tingkat kenyamanan yang terbaik” bagi seseorang, yaitu dengan memperhatikan denyut nadi ideal bagi masing-masing individu. Standar umum yang dipakai adalah formula 220 yang disebut sebagai “The talk test”, yang mengasumsikan bahwa intensitas denyut nadi sehabis latihan fisik yang aman  adalah 65%-80% dari 220 dikurangi usia permenit . Namun patokan yang lebih nyaman adalah dengan formula 180 yang dikembangkan oleh Dr. Philip Mafetone, metode ini menitik beratkan pada “usia fisiologis”, yaitu denyut nadi maksimal dihitung dengan 180 dikurangi usia kronologis (Ihromi, 2007).
    Penggunaan energi saat latihan fisik/olah raga dapat dihitung dengan melihat waktu dan jenis latihan yang dilakukan, misalnya seorang dengan berat badan 75 kilogram jalan kaki sejauh 30 mil bisa membakar energi 3500 kkal, identik dengan kehilangan 0,5 kilogram lemak (Primana, 2003). Namun untuk penderita obesitas harus dapat memilih latihan yang sesuai dengan keadaannya masing-masing. 
 
c.  Farmakoterapi
 
    Penanganan obat untuk penderita obesitas menurut Chandrawinata (2008) adalah:
1) Untuk obat yang dapat dipakai jangka panjang (lebih dari satu tahun) yaitu: orlistat, sibutramin dan rhimonabant.
2) Untuk pemakaian jangka pendek (kurang dari 12 minggu) yaitu: phentermine, diethyl-propione dan mazindol.
3) Obat lain yang efeknya dapat mengurangi berat badan adalah: bupropion, fluoxetine, sertraline, topiramate, zonisamide.
4) Obat yang masih dalam penelitian dan merupakan obat dimasa mendatang adalah: leptin & leptin-receptor agonist, POMC/CART stimulator, NPY, CNTF, ghrelin antagonist, agonist GLP-1, agonist Pyy3, agonist CCK.
 
d.  Akupunktur
         Secara akupunktur, yang dianggap sebagai penyebab dasar obesitas adalah lembab yang berlebihan, lendir dan defisiensi Ci, oleh karena itu pengobatan akupunktur menurut Slamat (2003) dapat dilakukan dengan pemilihan titik akupunktur sebagai berikut:
1) Panas dalam lambung, dengan gejala klinis nafsu makan besar, selalu merasa lapar, rasa pahit di mulut dan rasa haus titik yang dipilih adalah: titik Cung Wan (XIII, 12), Ci Ce (II,11), Ce Keu (X,6), Nei Ting (III,44).
 
2) Kekeringan dalam usus dan faeces, dengan gejala klinis konstipasi/sembelit, menyukai minuman dingin, distensi perut, urine kental dan jarang maka titik yang dipakai adalah: Ci ce (II,11), Ce Keu (X,6), Tien Su (III,25), Cu San Li (III,36), Nei Ting (III,44).
 
3) Defisiensi limpa dan serangan lembab, dengan gejala klinis kelelahan umum, mengantuk, edema tungkai, faeces encer dan urine jarang, titik yang dipilih: Sui Fen (XIII,9), Ci Hai (XIII,6), Cu Lin Ci (Xi,41), Tien Su (III,250, Yin Ling Cuen (IV,9), Cu San Li (III,36), San Yin Ciao (IV,6).
 
4) Lendir dan lembab dalam yang berlebihan, dengan gejala klinik obesitas sedang, lembab (riak) berlebihan, menyukai makanan manis-manis, titik yang dipilih: Cung Wan (XIII,12), Yin Ling Cuen (IV,9), Lie Cie (I,7), Fung Lung (III,40).
 
5) Hiperaktifitas Yang Hati, dengan gejala klinis obesitas sedang, hipertensi, pemarah, pusing, kesemutan pada jari, rasa pahit di mulut, tenggorokan kering, insomnia, titik yang dipakai: Pai Hui (X,20), Fung Ce(XI,20), Nei Kuan(IX,6), San Yin Ciao(IV,6), Cao Hai(VIII,6), Tay Cung(XII,3).
 
    Pada umumnya setelah dilakukan akupunktur empat sampai lima kali, maka akan didapatkan berkurangnya nafsu makan, berkurangnya rasa lapar, berkurangnya makanan yang dimakan, mengendornya otot perut dan gerakan tubuh mudah.
 
    Aribowo dan Achmad (1999) di RS SA Malang melakukan studi kasus kombinasi diet, latihan fisik, akupunktur dan obat hayati Indonesia terhadap 43 wanita menemukan rata-rata penurunan berat badan antara 0,5-1 kg/minggu. Sedangkan Siboe, dkk. (dalam Slamat, 2003) yang meneliti penurunan berat badan dengan akupunktur terhadap 62 subyek dihasilkan rata-rata penurunan berat-badan sebanyak 1,8 pon/ minggu. Menurut Hendromartono (2002), akupunktur untuk penurunan berat badan berguna untuk:
1) Membantu atau meningkatkan motivasi penderita obesitas untuk menjalankan program penurunan berat badannya.
2) Menekan keinginan penderita untuk makan.
3) Memperpanjang rasa kenyang
 
    Dari uraian diatas, maka dapat disimpulkan bahwa penanganan obesitas dapat dilakukan melalui pengaturan diet, peningkatan aktivitas fisik/ olah raga, perubahan perilaku, farmakoterapi, dan akupunktur. Penurunan berat badan tidak boleh drastis, cukup 5-10% dalam jangka waktu 3-6 bulan dengan kecepatan penurunan berat badan 1 kilogram/minggu atau 4 kilogram/bulan.
 
https://www.rspantiwaluyo.com/dokter-Akupuntur-Medis.htmlhttps://www.rspantiwaluyo.com/dokter-Akupuntur-Medis.html
Berita Terkait
Nama :
Email :
Pesan :