Stunting (Kerdil) Penting Diketahui Penyebab dan Pencegahannya
Jumat, 25 Januari 2019 - 09:50:59 WIB
Ditulis oleh : Arinda
Kategori: - Dibaca: 73 kali

STUNTING (KERDIL) PENTING DIKETAHUI PENYEBAB DAN PENCEGAHANYA

oleh : Yesinta Evariana, S.Gz

 

Menyambut Hari Gizi Nasional 2019, Kementrian Kesehatan RI mengangkat permasalahan yang erat kaitannya dengan konsumsi gizi seimbang, yaitu permasalahan anak stunting atau anak kerdil. Apa itu stunting? Stunting adalah masalah kurang gizi kronis yang disebabkan oleh kurangnya asupan gizi dalam waktu yang cukup lama, sehingga mengakibatkan gangguan pertumbuhan pada anak yakni tinggi badan anak lebih rendah atau pendek (kerdil) dari standar usianya.
Menurut World Health Organization (WHO) pada tahun 2017, Indonesia berada di urutan kelima tertinggi dengan kasus stunting.

Dokter Spesialis Anak Konsultan Nutrisi dan Penyakit Metabolik dari Departemen Ilmu Kesehatan Anak Fakultas Kedokteran Universitas Indoneisa (FKUI) Damayanti S Sjarif mengatakan, masalah stunting akan sulit diperbaiki pada anak jika sudah melewati masa 1000 hari kehidupan. Sedangkan Badan Kesehatan Dunia (WHO) juga menyatakan bahwa 20% kejadian stunting sudah terjadi ketika bayi masih berada di dalam kandungan. Kondisi ini diakibatkan oleh asupan ibu selama kehamilan kurang berkualitas, sehingga nutrisi yang diterima janin sedikit. Akhirnya, pertumbuhan di dalam kandungan mulai terhambat dan terus berlanjut setelah kelahiran.


Kondisi tubuh anak yang pendek seringkali dikatakan sebagai faktor keturunan (genetik) dari kedua orang tuanya, sehingga masyarakat banyak yang hanya menerima tanpa berbuat apa-apa untuk mencegahnya. Padahal seperti kita ketahui, genetika merupakan faktor determinan kesehatan yang paling kecil pengaruhnya bila dibandingkan dengan faktor perilaku, lingkungan (sosial, ekonomi, budaya, politik), dan pelayanan kesehatan. Dengan kata lain, stunting merupakan masalah yang sebenarnya bisa dicegah.

Apa dampaknya jika anak pendek sejak kecil?

Tidak cuma dampak fisik saja. Berikut adalah risiko yang dialami oleh anak pendek atau stunting di kemudian hari.

  • Kesulitan belajar
  • Kemampuan kognitifnya lemah
  • Mudah lelah dan tak lincah dibandingkan dengan anak-anak lain seusianya
  • Risiko untuk terserang penyakit infeksi lebih tinggi
  • Risiko mengalami berbagai penyakit kronis (diabetes, penyakit jantung, kanker, dan lain-lain) di usia dewasa

Ketika dewasa nanti, anak pendek akan memiliki tingkat produktifitas yang rendah dan sulit bersaing di dalam dunia kerja. Ya, stunting adalah masalah gizi yang berdampak hingga anak berusia lanjut usia apabila tidak ditangani segera.

 

 

Selain tubuh berperawakan pendek dari anak seusianya, ada juga ciri-ciri lainnya yakni:

  • Pertumbuhan melambat
  • Wajah tampak lebih muda dari anak seusianya
  • Pertumbuhan gigi terlambat
  • Performa buruk pada kemampuan fokus dan memori belajarnya
  • Pubertas terlambat
  • Usia 8-10 tahun anak menjadi lebih pendiam, tidak banyak melakukan kontak mata terhadap orang di sekitarnya

Apa saja faktor yang memengaruhi anak stunting?

  1. Pola makan
    Masalah stunting dipengaruhi oleh rendahnya akses terhadap makanan dari segi jumlah dan kualitas gizi, serta seringkali tidak beragam.
    Istilah 'Isi Piringku' dengan gizi seimbang perlu diperkenalkan dan dibiasakan dalam kehidupan sehari-hari. Dalam satu porsi makan, setengah piring diisi oleh sayur dan buah, 1/3 (sepertiga) lagi diisi dengan sumber protein (baik nabati maupun hewani) dan 2/3 (dua pertiga) karbohidrat.
  2. Pola Asuh

    Stunting juga dipengaruhi aspek perilaku, terutama pada pola asuh yang kurang baik dalam praktek pemberian makan bagi bayi dan Balita. Dimulai dari
  • Edukasi tentang kesehatan reproduksi dan gizi bagi remaja sebagai cikal bakal keluarga
  • Para calon ibu memahami pentingnya memenuhi kebutuhan gizi saat hamil dan stimulasi bagi janin, serta memeriksakan kandungan ke dokter atau bidan empat kali selama kehamilan
  • Bersalin di fasilitas kesehatan
  • Lakukan inisiasi menyusu dini (IMD) agar bayi mendapat colostrum air susu ibu (ASI)
  • Berikan hanya ASI saja sampai bayi berusia 6 bulan.
  • ASI boleh dilanjutkan sampai usia 2 tahun, namun berikan juga makanan pendamping ASI
  • Pantau tumbuh kembangnya dengan membawa buah hati ke Posyandu setiap bulan.
  • Berikan imunisasi yang sudah ditetapkan oleh pemerintah untuk mendapatkan kekebalan dari penyakit berbahaya.
  1. Sanitasi dan Akses Air Bersih

Rendahnya akses terhadap pelayanan kesehatan, termasuk di dalamnya adalah akses sanitasi dan air bersih, mendekatkan anak pada risiko ancaman penyakit infeksi. Untuk itu, perlu membiasakan cuci tangan pakai sabun dan air mengalir, serta tidak buang air besar sembarangan.

TIPS MENGHINDARI STUNTING

  1. Cukupi gizi (ASI, MPASI)
  2. Lengkapi imunisasi
  3. Perbaiki sanitasi (air bersih, jamban sehat, dan cuci tangan pakai sabun)
Berita Terkait
Nama :
Email :
Pesan :