Anak Cemas, Ortu Was Was
Kamis, 19 Juli 2018 - 09:39:11 WIB
Ditulis oleh : Arinda
Kategori: Umum - Dibaca: 132 kali

ANAK CEMAS, ORTU WAS WAS

Atasi Kecemasan Anak Saat Masuk Pertama Sekolah dengan Pendampingan yang Tepat

Oleh : Arinda Weddinia, S.Psi

Hari pertama masuk sekolah merupakan hari yang penuh perjuangan bagi orang tua maupun anak. Kecemasan orang tua seringkali berdampak pada kecemasan anak pula. Pertanyaan “Apakah anak saya mampu mengikuti kegiatan akademis? Apakah anak saya bisa dapat teman yang manis dan baik? Jangan-jangan anak saya dapat guru galak?” sering muncul pada kebanyakn orang tua. Hal ini dapat terjawab bila sebagai orangtua yang akan menyekolahkan anaknya sudah dapat mengenali kesiapan anak untuk bersekolah. Anak yang siap untuk bersekolah perlu dikenali melalui observasi perilakunya, yaitu kematangan secara fisik, emosi dan psikososial. Lebih mudahnya, orang tua dapat melihat perilaku anak antara lain inisiatifnya dalam melakukan aktivitas, dapat mengurus dirinya sendiri, serta dapat mengendalikan emosi dengan tepat. Emosi dalam hal ini bukan saja emosi negatif seperti marah, kecewa dan sedih namun juga emosi positif seperti bahagia, ceria dan bersemangat.

Anak yang sudah siap sekolah juga akan menunjukkan perilaku yang bersemangat ketika menata alat tulis dan buku ke dalam tas atau menanyakan kapan waktunya akan sekolah. Sehingga yang perlu orang tua cermati adalah kesiapan anak untuk sekolah bukan hanya dilihat dari kematangan usia namun juga dari perilaku yang ditunjukkan anak.

Selain perlu mengamati kesiapan anak untuk bersekolah, orang tua perlu memberikan pendampingan bagi anak ketika sudah masuk sekolah karena anak harus dihadapkan dengan lingkungan baru sehingga perlu penyesuaian diri. Penyesuaian diri tiap anak berbeda, oleh karena itu setiap orangtua perlu mengenali pola komunikasi terhadap anak. Pola komunikasi yang permisif (kurang kontrol, longgar terhadap pengambilan keputusan) memungkinkan anak mendapatkan pembiaran dari orang tua, membebaskan anak menentukan keinginan sendiri tanpa bimbingan yang benar. Pola komunikasi otoriter (kontrol yang ketat, tidak ada kompromi) memungkinkan anak tidak berkesempatan untuk memberikan keputusan yang tepat karena orangtua cenderung memaksakan kehendak pada anak, cenderung menerapkan aturan-aturan yang kaku. Pola komunikasi demokratis (mengedepankan kompromi) memungkinkan anak dan orang tua mencapai kesepakatan bersama terhadap setiap keputusan, memungkinkan anak dan orang tua bersikap positif terhadap perubahan-perubahan sehingga lebih memudahkan anak dan orang tua dapat saling menyesuaikan diri dengan lingkungan baru.

Tiga hari pertama masuk sekolah dapat digunakan orang tua untuk mengantar anak ke sekolah dengan tujuan mendampingi anak beradaptasi dengan lingkungan baru, memastikan anak beratribut sesuai peraturan sekolah, menolong anak ketika mengalami kesulitan berkomunikasi dengan teman baru, serta memastikan lingkungan sekolah adalah lingkungan yang bersahabat dan mendukung proses belajar mengajar.

 

Nama :
Email :
Pesan :

Total Pengunjung : 480229   Hits hari ini : 926   Total Hits : 2178941   Pengunjung Online : 9   IP Anda : 54.226.36.60